
Pemerintah Siapkan Sumber Daya untuk Tangani Dampak Bencana di Aceh dan Sekitarnya
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan bahwa pemerintah Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk mengatasi dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Provinsi Sumatra Barat. Di sisi lain, korban banjir yang mengungsi di tenda-tenda di Kabupaten Aceh Tamiang membutuhkan air bersih serta tempat mandi cuci kakus (MCK) untuk keperluan sehari-hari.
Sekretaris Utama BNPB Rustian menyatakan bahwa pemerintah memiliki semua sumber daya yang diperlukan, baik dari segi regulasi, anggaran, maupun sumber daya nyata, untuk menangani bencana di tiga provinsi terdampak. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus hadir dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak.
Dalam kunjungan kerjanya ke Kota Padang, Rustian menjelaskan bahwa pemerintah pusat bersama provinsi dan daerah, serta TNI/Polri, menerapkan strategi pentahelix dalam mengatasi dampak bencana. Koordinasi dengan para ahli atau pakar terkait percepatan penanganan darurat bencana hingga menuju tahap rehabilitasi dan rekonstruksi juga dilakukan.
Kebutuhan Air Bersih dan MCK bagi Pengungsi
Korban banjir bandang yang mengungsi di tenda-tenda di Kabupaten Aceh Tamiang membutuhkan air bersih serta tempat MCK yang layak. Ramadan, salah satu korban banjir dari Banda Aceh, menyampaikan bahwa pengungsi di tenda-tenda tersebut berada di kompleks perkantoran di Karang Baru. Ia menyebutkan bahwa ada 500-an pengungsi di area tersebut, sebagian besar berasal dari Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.
Ramadan menjelaskan bahwa banyak rumah warga rusak parah akibat banjir, bahkan beberapa rumah tertimbun lumpur lebih dari satu meter. Tempat MCK di lokasi pengungsian dinilai tidak layak, sehingga membuat pengungsi, khususnya perempuan, merasa tidak nyaman. Selain itu, sebagian korban banjir belum bisa kembali ke rumah mereka karena masih tertimbun lumpur.
Sebelumnya, Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi melaporkan kondisi pemulihan layanan air bersih di wilayahnya pasca-bencana banjir. Fasilitas Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat mengalami kerusakan berat akibat bencana banjir yang terjadi pada akhir November 2025. Saat ini, layanan distribusi air bersih baru kembali menjangkau dua kecamatan, yakni Kuala Simpang dan Karang Baru.
BNPB memberikan dukungan berupa dua unit genset untuk memperkuat pasokan listrik di instalasi air. Bantuan TNI dan Polri dalam pengeboran sumur tanah juga membantu masyarakat. Kebutuhan air bersih warga turut dipenuhi melalui upaya darurat.
Rekonstruksi dan Dokumen R3P
Pemerintah Aceh mulai menyusun dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di tanah rencong. Dokumen ini ditargetkan rampung pada Januari 2026.
Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir, menjelaskan bahwa penyusunan R3P merupakan tugas strategis pemerintah Aceh sebagai dasar pengusulan penanganan pasca-bencana ke pemerintah pusat. Seluruh data yang diperoleh dari kabupaten/kota terdampak segera diusulkan ke pemerintah pusat.
M Nasir menargetkan dokumen R3P dapat diserahkan kepada BNPB serta kementerian dan lembaga terkait lainnya paling lambat 20 Januari 2026. Semua dampak bencana banjir dan longsor Aceh harus masuk dalam dokumen R3P, mulai dari kerusakan rumah warga, lingkungan, sektor ekonomi, kawasan permukiman, hingga aset milik desa, kabupaten, dan provinsi.
“Semua hal yang terdampak harus terdata. Kita menargetkan proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini dapat diselesaikan pada tahun 2028,” ujar M Nasir.
Kebersihan di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin
Pondok Pesantren Darul Mukhlisin yang sempat terdampak kekuatan air dan material kayu dari banjir bandang di Aceh Tamiang pada 26 November 2025 kini telah bersih dari tumpukan kayu. Melalui dokumentasi terbaru yang diterima Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, terlihat perubahan signifikan yang memperlihatkan halaman pesantren yang dulunya merupakan "hutan kayu" darurat kini telah lapang serta tidak ada lagi potongan kayu besar yang menghalangi jalan.
Deretan alat berat yang selama ini bekerja tanpa kenal lelah, siang dan malam di bawah minimnya penerangan, kini terparkir rapi, menandakan misi pembersihan utama telah tuntas. Masjid pesantren yang sempat viral karena keteguhannya berdiri di tengah terjangan banjir pun kini tampak berdiri bersih dan kokoh. Bangunan suci itu tidak lagi terkepung kayu, tetapi telah menjadi tempat bernaung yang nyaman bagi para petugas dan sukarelawan yang beristirahat.
Meskipun di luar area pesantren masih terlihat beberapa sisa kayu yang menge ring, kondisi di dalam lingkungan pendidikan tersebut sudah jauh lebih tertata. Kerja keras lintas unsur yang melakukan pembersihan terpadu dengan koordinasi ketat membuahkan hasil nyata. Walaupun saat ini sarana pendidikan belum sepenuhnya dapat difungsikan kembali, bersihnya area dari material kayu menjadi secercah harapan. Pemerintah terus menargetkan untuk mengembalikan denyut nadi ibadah dan pendidikan di Darul Mukhlisin agar para santri dapat segera kembali menimba ilmu dengan tenang.
0 Response to "BNPB siapkan sumber daya hadapi banjir dan longsor Sumatera"
Posting Komentar