
TEHERAN, Erfa NewsTuntutan yang menentang pemerintah kembali terdengar di jalan-jalan ibu kota Teheran, Iran, pada hari Sabtu (10/1/2026) malam waktu setempat.
Tindakan ini menandai kelanjutan gelombang protes terbesar terhadap Republik Islam Iran dalam tiga tahun terakhir, meskipun aparat keamanan melakukan tindakan keras di tengah pemadaman internet nasional.
Pemerintah Iran mengklaim bahwa Amerika Serikat terlibat dalam demonstrasi yang awalnya muncul di Teheran dua minggu lalu akibat tekanan ekonomi, kemudian menyebar ke berbagai daerah dengan tuntutan penggulingan pemerintahan para ulama.
Kelompok-kelompok organisasi hak asasi manusia melaporkan puluhan korban jiwa dan menyampaikan kekhawatiran terkait meningkatnya tindakan represif dari pihak berwajib.
Informasi dalam negeri semakin terbatas setelah akses internet hampir sepenuhnya terputus sejak Kamis (8/1/2026), seperti yang diamati oleh lembaga pengawas jaringan.NetBlocks.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan negaranya "siap memberikan bantuan" kepada gerakan tersebut, sambil memperingatkan bahwa Iran sedang menghadapi "masalah besar" akibat tindakan represif terhadap para demonstran.
“Iran sedang menghadapi KELEPASAN, mungkin belum pernah terjadi sebelumnya. Amerika Serikat siap memberikan bantuan!!!tulis Trump di media sosial Truth Social, Sabtu.
Menurut laporan The New York Times, Trump juga telah mendapatkan informasi mengenai kemungkinan pilihan serangan militer. Namun, pejabat Amerika Serikat menyatakan belum ada keputusan akhir, setelah keterlibatan Washington bersama Israel dalam konflik 12 hari melawan Iran pada bulan Juni lalu.
Tindakan terus berlangsung meskipun pemerintah semakin keras
Di bagian utara Teheran, kerumunan kembali berkumpul, menyalakan petasan, menghantam panci, dan berteriak slogan-slogan dukungan terhadap monarki yang telah jatuh.
Video yang diverifikasi AFP juga menunjukkan tindakan serupa di beberapa wilayah ibu kota, meskipun sebagian rekaman masih belum bisa dipastikan keasliannya.
Reza Pahlavi, putra almarhum Raja Iran yang tinggal di Amerika Serikat, mengajak untuk melakukan tindakan yang lebih terarah.
Ia memotivasi para demonstran agar tidak hanya turun ke jalan, tetapi juga bersiap merebut dan menjaga pusat-pusat kota.
Protes ini merupakan tantangan terbesar bagi pemerintahan teokratis Iran sejak Revolusi Islam tahun 1979.
Setelah sebelumnya mengajak "menahan diri" dan mengakui adanya keluhan ekonomi, pihak berwenang kini semakin tegas dalam pendiriannya.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam pidato yang penuh tantangan pada Jumat (9/1/2026), menuduh para pengacau bertindak atas dorongan Trump.
Korban jiwa dan kritikan global
Amnesty International mengatakan sedang meninjau laporan yang "mengkhawatirkan" mengenai peningkatan penggunaan kekuatan mematikan yang tidak sah terhadap peserta demonstrasi sejak Kamis.
Di sisi lain, kelompok Iran Human Rights melaporkan paling sedikit 51 orang meninggal dunia akibat tindakan aparat, sambil memperingatkan bahwa jumlah korban sebenarnya mungkin lebih tinggi.
Kelompok ini juga merilis foto yang diklaim sebagai jenazah korban tembakan di sebuah rumah sakit di Teheran timur.
Di wilayah Saadatabad, Teheran, para demonstran berteriak yel-yel "Khamenei mati" sambil menggunakan klakson mobil sebagai tanda dukungan.
Aksi serupa dilaporkan terjadi di Mashhad, Tabriz, Qom, hingga Hamedan, di mana seorang pria tampak mengibarkan bendera Iran masa lalu yang memiliki gambar singa dan matahari.
Bendera yang sama pernah berkibar di balkon Kedutaan Besar Iran di London setelah para demonstran mendudukinya, menurut pengakuan saksi mata.
Kota mencekam, aparat bersiaga
Pada hari Kamis dan Jumat, para jurnalisAFP melaporkan suasana Teheran sepi dan gelap. Seorang pemilik kafe menutup bisnisnya lebih cepat karena alasan keamanan.
Di sisi lain, pihak berwenang mengumumkan beberapa anggota pasukan keamanan juga menjadi korban. Televisi pemerintah menampilkan upacara pemakaman petugas yang gugur, termasuk di kota Shiraz, serta foto gedung dan sebuah masjid yang terbakar.
Tentara Iran menegaskan bahwa mereka akan "melindungi dan menjaga kepentingan nasional" terhadap lawan yang berusaha mengganggu stabilitas.
Kritik datang dari komunitas global. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan Uni Eropa mendukung aksi protes di Iran dan mengecam "penindasan kekerasan" terhadap para peserta demonstrasi.
Bagi sejumlah penduduk, pemutusan akses internet dan ketidaknyamanan sehari-hari dianggap sebagai biaya yang harus dikeluarkan.
"Ini adalah harga sebelum kemenangan rakyat," kata seorang warga Teheran yang mengaku tidak bisa mengakses email pekerjaannya pada hari pertama minggu kerja.
Demonstrasi terus berlangsung, di tengah ketidakpastian arah respons pemerintah serta meningkatnya tekanan dari dalam maupun luar negeri.
Demonstrasi di Iran dipicu oleh inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Protes anti-pemerintah di Iran memasuki hari ke-14 berurutan pada hari Sabtu.
Sebagaimana dilansir CNN,Sabtu (10/1/2026), aksi protes dimulai dengan demonstrasi para pedagang di pasar Teheran yang menentang tingginya inflasi.
Dalam hitungan hari, demonstrasi itu menyebar ke berbagai wilayah dan berubah menjadi protes terbuka terhadap pemerintahan.
Krisis memuncak ketika harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan ayam naik tajam dalam sekejap, bahkan beberapa barang hilang dari pasar.
Kondisi semakin memburuk setelah bank sentral menghentikan kebijakan dolar murah untuk beberapa importir, yang menyebabkan kenaikan harga dan penutupan toko.
Tindakan para pedagang pasar ini dianggap tidak biasa, mengingat kelompok tersebut selama beberapa dekade dikenal sebagai pendukung utama Republik Islam.
Pemerintah yang dipimpin oleh kelompok reformis pernah berusaha mengatasi situasi dengan memberikan bantuan tunai sekitar 7 dolar AS per bulan. Namun, kebijakan tersebut tidak berhasil menghentikan gelombang kemarahan masyarakat Iran.
Mencapai lebih dari 100 kota
Demonstrasi kali ini dianggap sebagai yang terbesar sejak 2022, saat kematian Mahsa Amini memicu gerakan "Wanita, Kehidupan, Kebebasan".
Saat ini, aksi protes dilaporkan berlangsung di lebih dari 100 kota dan menyebar hingga provinsi-provinsi barat seperti Ilam dan Lorestan.
Di beberapa tempat, massa berteriak dengan yel-yel yang menyatakan keinginan akan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei, secara langsung menghadapi otoritas paling tinggi negara tersebut.
Media pemerintah melaporkan ratusan petugas keamanan mengalami luka akibat bentrokan.
Peran tukang pasar menjadi pembeda
Para pengamat menganggap keterlibatan pedagang pasar sebagai ciri utama protes kali ini.
Sepanjang sejarah Iran, kelompok ini memiliki pengaruh politik yang signifikan dan pernah menjadi pendukung utama Revolusi Islam tahun 1979.
"Selama lebih dari seratus tahun, para pedagang pasar selalu menjadi tokoh penting dalam gerakan politik Iran," kata Arang Keshavarzian dari Universitas New York kepadaCNN.
Meskipun peran politik mereka kini lebih bersifat simbolis, fluktuasi nilai tukar dan tekanan ekonomi menjadikan mereka sebagai pemicu protes yang akhirnya menyebar luas.
Legitimasi rezim kian tergerus
Di sisi lain, para ahli menganggap protes Iran kali ini mencerminkan kelelahan dan rasa frustrasi masyarakat yang telah terakumulasi dalam waktu lama.
Kepala Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, Sanam Vakil, mengatakan bahwa kredibilitas negara semakin melemah.
Sementara Dina Esfandiary dari Bloomberg Economics menganggap Iran telah mencapai titik kritis dan perubahan besar sulit untuk dihindari.
Iran diperintah oleh sistem teokrasi sejak tahun 1979. Presiden Masoud Pezeshkian, yang terpilih pada 2024, memiliki wewenang yang terbatas karena keputusan penting tetap dipegang oleh Khamenei.
Di tengah adanya sanksi global, korupsi, dan permasalahan lingkungan, tekanan terhadap pemerintahan semakin meningkat.
Korps Garda Revolusi Iran sendiri menyatakan bahwa kelangsungan pemerintahan merupakan "garis merah" dan membuka kemungkinan tindakan balasan.
Dengan terus berlangsungnya protes, masa depan Iran tampaknya sedang berada di titik kritis antara tekanan dari masyarakat, respons represif pemerintah, serta pergeseran geopolitik yang semakin memburuk.
0 Response to "Mengapa Demonstrasi Besar di Iran Meledak Kembali dan Maknanya bagi Pemerintah?"
Posting Komentar