Segara Anak, Sang Putra Laut yang Tersembunyi

Kami menatap lembah di sebelah kiri. Berkabut, tidak jelas di mana dasarnya. Angin lebih tenang siang ini. Namun lutut dan pergelangan kaki saya sedikit meronta. Belum tiga jam yang lalu kami menyelesaikan perjalanan naik turun Puncak Rinjani, sembilan jam pulang pergi, sekarang bersiap untuk perjalanan berikutnya.

"Tiga sampai empat jam saja, rata-rata perjalanan ke Segara Anak dari Plawangan sini", Zaki [22] kawan saya berusaha menjelaskan situasi yang akan terjadi ke depan.

Plawangan [2.700 mdpl] tempat kami berkemah tadi malam. Kemarin, di pertengahan Desember 2025 ini, dari pintu masuk Desa Sembalun di Lombok Timur, kami menempuh perjalanan lima jam dari Pos 2 Tengengean sampai ke Plawangan. Istirahat setengah malam di tenda, kemudian dini hari tadi muncak pulang pergi ke Puncak Rinjani [3.726 mdpl].

Baca juga: Menuju Atap Selatan Indonesia, Rinjani

Rinjani yang berarti berdiri dan tegak, sesuai dengan penampakannya, berdiri kokoh di sisi tenggara dari Plawangan. Namun konon kata Rinjani juga berasal dari perubahan fonologis frasa Rara Anjani, tokoh Legenda di Pulau Lombok. Entahlah.

Siang ini, kami akan melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak, di sisi barat daya Plawangan. Dari papan informasi di beberapa titik, sebenarnya jarak dari Plawangan sampai ke Segara Anak sejauh 3,7 kilometer. Dengan target tempuh kami selama empat jam, InsyaAllah tetap akan menyenangkan, walau cukup menantang.

Bismillah, tepat jam satu siang, kami berempat, saya dan isteri ditemani kawan Zaki dan Sofyan [19] mulai menuruni punggungan Plawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak.

Ujian dimulai

Jika tidak berkabut, danau ini dapat kita lihat dari Plawangan. Namun jangankan danau, 50 meter ke depan saja kami tidak dapat melihat apa-apa.

Setelah sekitar 200an meter jalan setapak tanah menurun yang "agak" landai, kemudian kami berbelok tajam ke arah kanan. Kini ujian dimulai. Kami berhadapan dengan jalan setapak - walau tidak berbentuk jalan - berupa undakan batu-batu besar, menurun tajam. Ya, harus satu-satu kami lewati.

Walau bawaan kami boleh dibilang ringan - karena perlengkapan kemping dan bahan makanan dibawa oleh porter - tetap saja perjalanan ini tidak mudah bagi kami. Isteri saya lebih lincah menuruni undakan batu-batu. Dia kadangkala menyarankan pijakan yang menurutnya aman untuk saya.

Pergelangan kaki kanan saya memang agak sedikit bermasalah sejak mulai mendaki, sehingga jalur ekstrem seperti ini harus membuat saya juga ekstra hati-hati. Jalur berundak tinggi atau justru tanah bercampur kerikil menjadi perhatian utama kehati-hatian saya.

Tidak perlu terburu-buru. Tidak ada perlombaan di sini.

Satu jam berlalu. Tidak tampak penurunan ini akan segera berakhir. Beberapa kawan kami para ranger TN Gunung Rinjani yang juga akan ke danau dari Plawangan, sudah sedari tadi melewati kami. Padahal mereka berangkat belakangan.

Di beberapa bagian penurunan bebatuan ini, tersedia pengaman tiang besi yang saling dihubungkan dengan tambang yang cukup besar. Atau, di beberapa bagian tebing yang curam juga ditanam penambat berbahan besi pada batu, sebagai pengikat tali-tali untuk pegangan pendaki.

Kami menuruni bukit ke arah barat. Matahari siang yang malu-malu, kadangkala tersembul dari balik awan, menyingkirkan sebagian kabut di hadapan kami.

Kadangkala kami juga menjejak tangga-tangga beton, sebagian masih bagus, sebagian sudah tampak tulang besinya. Tapi semua itu cukup membantu perjalanan kami yang lambat ini.

Beberapa pendaki silih berganti melewati kami. Bahkan para porter dengan pikulan barang-barang mereka, tampak lincah meluncur ke bawah. Luar biasa.

Hanya dekat di mata

Setelah sekitar dua jam, jalan kami sedikit bervariasi. Kadang tetap menurun berbatu, melewati lereng bukit, bahkan sedikit naik turun bukit juga. Matahari yang mulai bersahabat juga menghangatkan kami. Lanskap danau mulai terkuak.

"Itu pos Segara Anak", tunjuk Zaki ke arah salah satu sisi danau yang terlihat. "Itu yang berwarna merah", jelasnya. Kami akhirnya melihat titik merah di kejauhan. Setidaknya, itu setitik harapan bahwa tujuan kami sudah terlihat.

"Hanya dekat di mata, tapi jauh di kaki", kata isteri saya.

Dengan gerak dan kecepatan yang konsisten lambat, melewati turunan terjal, naik turun bukit, serta melintas beberapa sungai kering dan deretan hutan cemara, yang kami tuju mulai terlihat jelas.

Alunan suara burung ceret gunung [Horornis flavolivaceus] yang melankolis, menemani beberapa titik perjalanan kami yang makin mendekat ke danau. Sepasang burung tersebut yang tampak kasmaran, tidak terganggu ketika kami lewat. Mereka tetap asik berkejaran di antara semak pakis dan perdu.

Saksi hidup Samalas 1257

Angin makin kencang. Perdu kanan kiri kami mulai terkuak. Di hadapan kami kini terhampar beberapa barisan cemara. Di belakangnya, biru laut Segara Anak tampak tenang dan syahdu. Suara riuh manusia mulai terdengar.

Barisan tenda aneka warna tampak berjajar dan berkumpul di beberapa tempat, di bawah naungan cemara-cemara dan tepi danau. Kami tiba di sekumpulan tenda, pukul lima lewat, kemudian segera meletakkan ransel kami di dekat batu-batu besar.

Amak Gaga, porter kami yang sepertinya sudah sampai sejak lama, menghampiri.

"Ini tendanya", kata Amak Gaga menunjuk dua tenda merah dan biru di depan kami.

"Oke Mak", jawab kami singkat. Isteri saya gelisah. Dia segera meminjam botol besar kosong bekas air mineral.

"Di mana toilet?" tanya istri saya kepada siapa saja di sekitar kami.

"Itu, di belakang pos, yang warna biru", jawab Zaki. Isteri saya segera menghilang.

Saya berjalan ke tepi danau, duduk di sebuah batu kecil. Angin kembali bertiup kencang. Matahari tepat di hadapan, di seberang danau, sedikit tertutup awan. Alhamdulillah, kami sampai juga di tempat indah ini.

Segara Anak, yang tampak berbentuk bulan sabit jika dilihat dari Puncak Rinjani. Segara dalam bahasa Sasak berarti Laut. Masyarakat Sasak menamakan danau ini layaknya lautan kecil atau Anak Laut. Konon karena pancaran warna biru tua bercampur hijau toska di beberapa sisinya, ketika dilihat dari jauh atau dari Puncak Rinjani. Warna yang umum kita lihat di lautan.

Di sisi selatan, kiri saya, tampak Gunung Barujari mengepulkan asap tipis dari celahnya di puncak. Barujari berarti baru jadi, merupakan gunung yang terbentuk pasca letusan utama Gunung Rinjani pada masa silam. Boleh dibilang, Barujari adalah anak Gunung Rinjani.

Gunung Rinjani di masa silam, dikenal oleh masyarakat Lombok sebagai Gunung Samalas. Sang raksasa meletuskan ledakan maha dahsyat pada 1257.

Saya masih ingat, dulu di akhir 1990an, Pemerintah RI pernah mengeluarkan pecahan uang 10 ribu rupiah. Bergambar salah satu sisinya berupa Danau Segara Anak dan Gunung Baru jadi dengan Puncak Rinjani di latarnya. Dulu, hanya bisa melihat tanpa pernah bermimpi untuk melihatnya langsung. Tapi kali ini, pemandangan alam yang fenomenal itu dapat saya saksikan langsung.

Menurut berbagai sumber yang terhimpun dalam Wikipedia, hanya sedikit bukti sejarah langsung yang menjelaskan akibat dari letusan Samalas ini. Babad Lombok menceritakan bagaimana desa-desa di Lombok hancur pada pertengahan abad ke-13 akibat semburan abu, gas, dan aliran lava.

Masih menurut Wikipedia, dua naskah tambahan, yakni Babad Sembalun serta Babad Suwung, mungkin juga merujuk pada peristiwa letusan tersebut. Dari teks-teks inilah, bersama sumber lain, nama "Samalas" berasal, sedangkan nama "Suwung", yang berarti "hening dan tanpa kehidupan", mungkin merupakan rujukan terhadap keadaan setelah letusan.

Saya duduk terpana menatap anak gunung dan anak laut ini yang menyatu ini. Terlihat dekat, namun sesungguhnya dari tempat saya duduk di area perkemahan, jarak ke puncaknya mencapai dua kilometer lurus.

Jika sebuah ekosistem menjadi bagian yang disebut keanekaragaman hayati, maka bagi saya, ekosistem Danau Segara Anak dan Gunung Barujari ini merupakan saksi hidup, bagaimana dahsyatnya ledakan Samalas 1257.

Dia yang bersembunyi

Isteri saya sudah kembali. Datang menghampiri saya dengan membawa satu matras kami untuk alas duduk. Kami berfoto-foto sejenak, sambil melawan angin yang makin dingin dan mengencang.

Berbagai burung bermain di sekitar perkemahan. Gelatik batu [Parus cinereus] yang hitam putih manis, si mungil hijau-olive kacamata gunung [Zosterops japonicus], dan si merah cantik pipit benggala [Amandava amandava] berseliweran. Mereka sibuk mencari sisa-sisa nasi dan makanan lain yang ditinggalkan manusia di sekitar perkemahan.

Sebagian kawan dan para pengunjung, di satu sisi danau sibuk memancing. Ya, ada ikan di danau ini. Tidak besar-besar.

"Ada mujair dan ikan mas", kata Mas Sugiri, salah satu ranger TN Gunung Rinjani, ketika meletakkan ikan mujair tangkapannya di botol besar bekas air mineral. Di kejauhan, ada seorang anak bule yang juga sibuk dengan tali pancingnya.

Menurut berbagai sumber, disebutkan bahwa berdasarkan hasil kajian dan saran para ahli, pada 1985, Pemerintah Provinsi NTB atas arahan Presiden Soeharto menebar benih ikan jenis nila, mas, dan mujair di Danau Segara Anak ini. Hal ini dengan harapan dapat menambah mata pencaharian masyarakat kaki Gunung Rinjani, sekaligus menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

Monk dkk. (1997) dalam buku Ekologi Nusa Tenggara dan Maluku, menyebutkan bahwa Danau Segara Anak merupakan danau vulkanik, berada pada ketinggian 2.030 mdpl, dengan luas 1.125 hektar dan kedalaman 160 meter. Namun demikian, ada juga sumber yang menyebutkan kedalamannya mencapai 230 meter.

Berdasarkan situs jelajah.kompas.id, saat ini Gunung Barujari telah mencapai ketinggian 2.376 mdpl atau lebih dari 300 meter dari tinggi permukaan air danau, dan masih dalam tahap membangun diri.

Masih menurut Monk dkk. (1997), anak Gunung Rinjani pernah meletus pada 1994, memuntahkan lava ke danau dan menghujani situs perkemahan di dalam dan di sekitar kawah dengan batu besar dan abu vulkanik. Menurut catatan pengelola kawasan TN Gunung Rinjani, Gunung Barujari terakhir meletus pada 2015.

Permukaan air danau tampak biru tenang di hadapan kami sore ini. Sedikit ombaknya menerpa pasir dan kerikil hitam di tepian. Beberapa ikan mati tampak di tepi danau, entah kenapa. Terdapat beberapa papan peringatan di area perkemahan bagi pengunjung untuk tidak berenang di danau ini.

Matahari sebentar lagi tertutup bukit dari kaldera purba ini di sisi barat. Angin makin kencang. Kami beringsut menggulung matras. Mudah-mudahan besok pagi cerah, menghantarkan kami pada pemandangan spektakuler dari lanskap indah yang tersembunyi ini.

0 Response to "Segara Anak, Sang Putra Laut yang Tersembunyi"

Posting Komentar