Rencana Militer AS untuk Gaza: Zona Hijau dan Merah
Dokumen militer AS yang bocor menunjukkan rencana jangka panjang untuk membagi wilayah Gaza menjadi dua zona, yaitu "zona hijau" di bawah kendali Israel dan militer internasional, serta "zona merah" yang dibiarkan begitu saja. Rencana ini mencakup pengerahan pasukan asing bersama tentara Israel di sebelah timur Gaza, dengan garis kuning sebagai batas antara kedua zona tersebut.
Pada Kamis, militer AS mengharapkan kontribusi dari kelompok besar seperti NATO dan mitranya, termasuk negara-negara di Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Indonesia dan Azerbaijan sebelumnya disebut-sebut sebagai negara yang akan memberikan kontribusi pasukan dalam pasukan stabilisasi internasional (ISF).
Konsep Operasi Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF)
Rencana operasi AS untuk ISF menyatakan bahwa pasukan hanya akan bertugas di "zona hijau". Pengerahan pasukan dimulai dari jumlah kecil di wilayah terbatas, kemudian berkembang hingga mencapai 20.000 tentara di seluruh wilayah Gaza. Pasukan tidak akan beroperasi di sisi barat garis kuning, tempat Hamas masih memiliki kendali.
Dokumen lain menjelaskan rencana bagi tentara asing untuk menjaga penyeberangan di sepanjang garis kendali setelah “berintegrasi” dengan pasukan Israel. Misi ini mungkin membuat khawatir negara-negara yang berpotensi memberikan kontribusi pasukan.

Peta garis penarikan pasukan IDF di Jalur Gaza yang diusulkan Presiden AS Donald Trump. Wilayah timur garis kuning bakal dikuasai IDF dan pasukan internasional merujuk rencana terbaru AS. - (Truth Social)
Negara-negara yang berpotensi bergabung juga takut membuka jalan bagi tuduhan bahwa ISF mendukung penjajahan Israel di Gaza. Militer Israel akan “mempertimbangkan persyaratan penarikan” pada tahap selanjutnya ketika keamanan internasional sudah mapan.
Pertanyaan Serius Mengenai Komitmen Washington
Rencana militer AS yang bocor tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai komitmen Washington untuk mengubah gencatan senjata yang diumumkan bulan lalu menjadi penyelesaian politik abadi dengan pemerintahan Palestina di Gaza, seperti yang dijanjikan oleh Presiden AS Donald Trump.
Tanpa rencana yang layak untuk pasukan penjaga perdamaian internasional, penarikan pasukan Israel, dan pembangunan kembali skala besar, Gaza berisiko terjerumuh ke dalam ketidakpastian setelah dua tahun dilanda genosida yang menghancurkan.
Peran Indonesia dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF)
Awal bulan ini, komando regional militer AS Centcom menyusun rencana untuk menempatkan pasukan Eropa – termasuk ratusan tentara Inggris, Prancis, dan Jerman – sebagai inti ISF, menurut dokumen yang dilihat oleh Guardian. Dokumen-dokumen tersebut ditandai bukan rahasia, yang menunjukkan bahwa AS tidak menganggap rencana militer tersebut sebagai hal yang sangat sensitif.
Yordania tercatat sebagai salah satu negara yang mungkin akan menyumbangkan ratusan pasukan infanteri ringan dan hingga 3.000 petugas polisi, meskipun Raja Abdullah secara eksplisit mengesampingkan pengiriman pasukan karena negaranya “terlalu dekat secara politik” dengan Gaza.

Presiden Donald Trump berpose dengan perjanjian yang ditandatangani pada pertemuan puncak para pemimpin dunia tentang mengakhiri perang Gaza, di Sharm el-Sheikh, Mesir, Senin, 13 Oktober 2025. - ( Suzanne Plunkett/Pool Photo via AP)
Persiapan Indonesia untuk Pengiriman Pasukan Perdamaian
Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan sejauh ini pemerintah Indonesia masih berkomitmen mengirimkan pasukan. Menurutnya, Indonesia punya dua jalan untuk mendapatkan restu mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza. Restu itu harus didapatkan pemerintah guna memastikan pengiriman pasukan perdamaian bisa berjalan dengan lancar.
"Ada dua alternatif. Alternatif pertama adalah di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)," kata Sjafrie saat ditemui di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Jumat.
Indonesia dan PBB sudah lama saling bekerja sama dalam pengiriman pasukan perdamaian di beberapa daerah konflik seperti Afrika dan Lebanon. "Alternatif kedua yakni di bawah persetujuan organisasi internasional yang diinisiasikan oleh Presiden Amerika Serikat," kata Sjafrie.

Presiden Prabowo Subianto (kanan) berpelukan dengan Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah Abdullah II Ibnu Al Hussein seusai menerima gelar kehormatan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (14/11/2025). - (AP Photo)
Sjafrie memastikan pihaknya sudah menyiapkan 20.000 personel yang terdiri dari pasukan kesehatan dan pasukan Zeni untuk diterjunkan dalam misi perdamaian di Gaza. Dia berharap seluruh persyaratan dan dukungan dari negara lain dapat dikantongi pemerintah sehingga dalam waktu dekat dapat mengirim pasukan perdamaian ke Gaza.
Lini Masa Perang Irak
0 Response to "Rencana AS Terbongkar, TNI Siap Bantu IDF di Gaza?"
Posting Komentar